Tahun Baru Caka

Om Swatyastu,

Tahun  Caka adalah perhitungan tahun yang digunakan oleh umat Hindu dalam menentukan perputaran waktu dalam siklus satu tahun. Ada banyak perhitungan siklus waktu dalam setahun yang digunakan oleh pemeluk agama yang ada, sesuai dengan keyakinan tentang kebenaran perhitungan tahun tersebut, dan nilai sejarah yang dimiliki oleh tahun tersebut.

Bagi umat muslim lebih cendrung menggunakan perhitungan waktu dalam setahun itu dengan tahun Hijriah, karena diyakini perhitungan itu memiliki ketepatan yang baik atau memiliki nilai sejarah yang lebih memberi makna bagi umatnya.

Bagi umat Nasrani tahun Masehi lebih tepat baginya, mungkin karena memiliki ketepatan dan nilai sejarah yang tinggi dalam mengingatkan umatnya untuk berbakti kepadanya.

Umat Kong Hu Chu, tahun Imlek digunakan sebagai perhitungan waktu dalam setahun. Karena tahun ini mempunyai nilai historis dan dipandang tepat . Bangsa dan Negara juga mempunyai perhitungan tahun. Sebagian besar Bangsa-bangsa di dunia ini menggunakan perhitungan tahunnya dengan menggunakan perhitungan tahun Masehi.

Dengan menggunakan perhitungan tahun sebagaimana tersebut diatas, maka setiap penganut agama atau Warga Negara pada awal perhitungan tahunnya dirayakan sebagai Tahun Baru.

Tahun Baru bagi umat Hindu yang menggunakan dasar perhitungan tahunnya tahun Caka, disebut dengan Tahun Baru Caka, yang jatuhnya pada tanggal 1 sasih kedasa, sedangkan akhir tahunnya jatuh pada tilem kesanga.

Biasanya umat Hindu menyambut tahun barunya dengan penuh aura kerohanian, dimana selang beberapa hari menjelang akhir tahun melakukan pakiisan – untuk menyucikan alam semesta ini, pada hari tilem kesangenya dilakukan pecaruan (tawur kesange) untuk menetrallisir pengaruh-pengaruh buruk dari Bhuta-kala, agar pada tahun mendatang alam ini suci, tidak mendapat gangguan dari unsur-unsur negatif.

Pada tanggal 1 (tahun baru) umat hindu beramai-ramai secara rohani menghubungkan diri menghadap Hyang Widhi untuk memujaNYA dan bermohon kepadaNYA. Pada hari ini dilakukan penyepian sehingga hari ini disebut dengan Hari Raya Nyepi. Umat Hindu melakukan Catur Brata penyepian selama 24 jam dan mona brata serta upawasa. Catur Brata penyepian yang dilaksanakan adalah : Amati Gni, Amati kekaryan, amati lelungan dan amati lelanguan. Disini umat Hindu benar-benar melakukan instrospeksi diri, menilik apa yang dilakukan pada tahun terdahulu dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang. Perbuatan benar akan dipertahankan dan ditingkatkan sedangkan yang salah akan ditinggal atau diperbaiki.

Pada tanggal 2 umat melakukan hubungan sosial dengan sesama manusia yaitu dengan melakukan simakrama (saling memaafkan) baik itu dengan keluarga, saudara, teman, kerabat, sahabat, handai tolan dan bahkan terhadap semua makhluk ciptaan Hyang Widhi ini. Jelas umat Hindu pada Hari Raya Nyepi (Tahun Baru) itu mengutamakan perayaanya bersifat spiritual terlebih dahulu, kemudian barulah yang bersifat manusiawinya.

Simakrama yang sifatnya perorangan atau kekeluargaan sering dilaksanakan pada hari kedua tahun baru, sedangkan simakrama yang bersifat kelompok atau massa yang dikenal dengan istilah Dharma Santy dapat dilakukan setelah hari/tanggal 2 tahun baru Caka tersebut, namun usahakan jangan terlalu lama dengan Hari Raya Nyepi-nya.

Dengan demikian jelas tahun Baru bagi Agama Hindu adalah tahun Baru Caka (Nyepi), yang jatuh sebagaimana tersebut, dan Tahun Baru bagi agama lain, bangsa/negara adalah tahun-tahun yang dijadikan perhitungan siklus peredaran planet bumi ini.

Om Santy 3 X.

Advertisements

Brahma Stava

Puja ini digunakan untuk memuja Hyang Widhi yang manisfestasinya sebagai Dewa Brahma. Pujanya sebagai berikut :

1. Om Namas to bhagavan agne, namas te bhagavan hare, namas te bhagavan Isa, sarva-bhaksa hutasana.

2. Tri-warno bhagavan agnir, brahma visnur mahesvarah, santikam paustikam caiva, raksanan cabhicarikam.

3. Anujnanam krtam loke, saubhagyam priya-darsanam, yat kincit sarva-karyanam, siddhir eva na samsayah.

4. Om brahma praja-patih sresthah, svayambhur varado guruh, padma-yinis catur-vaktro, brahma sakalam ucyate.

4a. Namo ‘stu bhagavan agni, sarvoktena hutasana, vajra-sara maha-sara, dipto ‘gnih jvalanas tatha.

5. Sarva-papa-prasamanam, hiranya-garbha-sambhavam, lokanan ca sariran ca, sukham agnih pram ucyate.

Ini merupakan puja yang di ucapkan dalam rangka memuja Hyang Widhi sebagai pencipta dan puja diperuntukkan karena mengucapkan syukur karena Hyang Widhi telah menciptakan alam beserta isinya ini.

Dewa Brahma merupakan fokus tujuan dari puja ini.

Siva Stava

Siva Stava merupakan stava diperuntukkan kepada Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Siva. Stava ini digunakan untuk memuja Deva Siva pada pemujaan khusus atau pada Hari Raya Sivaratri. Pujanya sebagai berikut :

1. Om namah sivaya sarvaya, deva-devaya vai namah, rudraya bhuvanesaya, siva-rupaya vai namah;

2. Tvam sivas tvam maha-deva, isvarah paramesvarah, brahma visnus ca rudras ca, purusah prakrtis tatha;

3. Tvam kalas tvam yamo mrtyur, varunas tvam kuberakah, indrah suryah sasankas ca, graha-naksatra-tarakah;

3a. Tatha-vakyabhyam devabhyam, sarva-devabhyam eva ca, sarva-bhuta sarva-pitra, kalikam tu ta samyogi;

4. Prthiwi salilam tvam hi, tvam agnir vayur eva ca, akasam tvam param sunyam, sakalam niskalam tatha;

5. Asuranam patis tvam hi, devanam tvam patis tatha, uma-patih pasu-patir, devanam sadasah-patih;

6. Umange samsthito yas ca, karta harta karoti yah, tvam eva deva-devesah, karma krtva maha-sivah;

7. Abhaksva-bhaksanas caiva, sura-pana-madanvitah, yuvati-rati-samyuktah, sandhya-bhrasta tu samyutah;

8. Etani sarva-karmani, yah karoti maha-sivah, asya gitam dhvanir nrttam, yuddham ca kramanam tatha;

9. Kapha-meda-yutam sukram, purisa-mutra-samyutam, etani sarva-karmani, yah karoti maha-sivah;

10. Asucir va sucir vapi, sarva-kama-gato ‘pi va, cintayed devam isanam, sabahyabhyantarah sucih;

10a. Namas te deva-devesa, iyan maiyan me viraya, vidara tvam eva pasam, grhita tvam jataparam;

11. Namas te deva-devesa, isana varadacyuta, mama siddhim pravaccha, sarva-karyesu sankara;

12. Namas te deva-devesa, tvat-prasadad vadamy aham, vakye hine ‘tirikte va, mam ksamasva surottama;

13. Yas tistham vyapta-visvas, tanu-kavaca-ranais, caksusa yo narendrais, tiryan-murtya rsabhanam, avani-tala-gato, manusanam ca samsthah, jagra-svapnam susuptam, subha-vaham abhayam, sarva yac ca turyam, turyantam sunyam ekam, satata-timiratah, procyate jnayate sah.

Itulah antara lain sloka-sloka siva stava yang digunakan untuk memuja Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Siva.