Ngaben/Pitra Yadnya

Ngaben sering disebut dengan Pelebon, pitra Yadnya, karena disini terdapat proses memperabukan badan kasar yang meninggal. Secara singkat tujuan dari ngaben adalah untuk mempercepat proses pengembalian unsur-unsur yang terdapat dalam manusia ini untuk kembali kepada aslinya, dalam artian tidak lagi ada saling keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya.

Unsur Panca Maha Buta akan kembali kepada ciri khas unsur panca maha buta itu sendiri, Citta, Dasendria, Ahamkara, dan Atma akan kembali kepada induk/asalnya. Oleh karenanya maka pengabena mempunyai tiga tingkatan yaitu :

1. Ngaben, Palebon atau atiwa-tiwa. Upacara ini di India disebut ANTYESTI SAMSKRA yang bertujuan untuk membebaskan roh atau (Atma) dari ikatan badan wadag (shtulasarira) melalui pembakaran jenazah, dengan demikian atma akan bebas untuk mencapai kelepasan.

Upacara Ngaben atau palebon mempunyai arti memperabukan jenazah. Atiwa-tiwa berasal darim kata ativahaka yg berarti membebaskan preta sehingga dapat meningkat menjadi pitra yang dilakukan tidak boleh lebih dari 10 hari ketika yang bersangkutan meninggal dunia.  

2. Nyekah, Ngeroras, Mamukur atau Maligya. Nyekah berarti upacara untuk menyucikan roh leluhur yang telah diupacarakan pada tahap pertama, yaitu ngaben. Ngaben pada tipe ini menggunakan sara sekah simbul dari roh, yang dibuat dari daun beringin dan dihiasi dengan bunga ratna, dan sebagainya. Kata sekah atau sekar sangat dekat dengan kata puspa atau puspasarira yang artinya bunga atau badan dari bunga. Sedangkan ngeroras,karena upacara ini telah dilakukan dua belas hari terdahulu. Mamukur atau Maligya, karena sarana ini menggunakan Bokur/ligya, sejenis pengusungan jenasah yang bertingkat seperti meru.

Di India Upacara tahap ke-2 seperti ini disebut Pitrapinda yang maknanya sama dengan Nyekah.

Pada saat ituroh leluhur disucikan dengan upacara penyucian dan persembahan berupa bubur, dan di India berupa nasi yang dibuat bulat seperti bola pingpong (rice ball selanjutnya simbul badan halus (suksmasarira) tersebut dibakar dan dihanyut ke laut atau sungai yang mengalir kelaut.

3. Atmapratistha, Devapitrapratista atau Ngalinggihang Dewahyang. Di India upacara ini di sebut dengan upacara Sraddha. Upacara ini merupakan upacara tahap terakhir dalam artian apabila upacara telah dilaksanakan maka roh orang yang telah meninggal dunia sudah dipandang suci, dan dapat berstana di tempat suci untuk dipuja oleh anak cucu keturunannya.

Dalam kitab Nagarakrtagama dijumpai bahwa upacara sraddha ini dilakukan oleh raja Majapahit Hayam Wuruk pada jama kejayaan beliau. Roh leluhur beliau yang telah disucikan distanakan di Palah yang kini benama candi penataran di dekat kota Blitar, Jawa Timur.

Demikian upacara penyucian roh orang yang meninggal untuk mencapai kesucian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s