Upacara tiga Bulanan

Image

Upacara tiga Bulanan

Ini merupakan photo niga bulanan yang dilakukan oleh umat Hindu dari Bali yang tinggal di Basarang, Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. Pemangku sedang memuja Banten agar Ida Hyang Widhi merestui dan melindungi Si Anak dan orang tuanya agar terhindar dari marabahaya dan penyakit.

Advertisements

Ngaben/Pitra Yadnya

Ngaben sering disebut dengan Pelebon, pitra Yadnya, karena disini terdapat proses memperabukan badan kasar yang meninggal. Secara singkat tujuan dari ngaben adalah untuk mempercepat proses pengembalian unsur-unsur yang terdapat dalam manusia ini untuk kembali kepada aslinya, dalam artian tidak lagi ada saling keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya.

Unsur Panca Maha Buta akan kembali kepada ciri khas unsur panca maha buta itu sendiri, Citta, Dasendria, Ahamkara, dan Atma akan kembali kepada induk/asalnya. Oleh karenanya maka pengabena mempunyai tiga tingkatan yaitu :

1. Ngaben, Palebon atau atiwa-tiwa. Upacara ini di India disebut ANTYESTI SAMSKRA yang bertujuan untuk membebaskan roh atau (Atma) dari ikatan badan wadag (shtulasarira) melalui pembakaran jenazah, dengan demikian atma akan bebas untuk mencapai kelepasan.

Upacara Ngaben atau palebon mempunyai arti memperabukan jenazah. Atiwa-tiwa berasal darim kata ativahaka yg berarti membebaskan preta sehingga dapat meningkat menjadi pitra yang dilakukan tidak boleh lebih dari 10 hari ketika yang bersangkutan meninggal dunia.  

2. Nyekah, Ngeroras, Mamukur atau Maligya. Nyekah berarti upacara untuk menyucikan roh leluhur yang telah diupacarakan pada tahap pertama, yaitu ngaben. Ngaben pada tipe ini menggunakan sara sekah simbul dari roh, yang dibuat dari daun beringin dan dihiasi dengan bunga ratna, dan sebagainya. Kata sekah atau sekar sangat dekat dengan kata puspa atau puspasarira yang artinya bunga atau badan dari bunga. Sedangkan ngeroras,karena upacara ini telah dilakukan dua belas hari terdahulu. Mamukur atau Maligya, karena sarana ini menggunakan Bokur/ligya, sejenis pengusungan jenasah yang bertingkat seperti meru.

Di India Upacara tahap ke-2 seperti ini disebut Pitrapinda yang maknanya sama dengan Nyekah.

Pada saat ituroh leluhur disucikan dengan upacara penyucian dan persembahan berupa bubur, dan di India berupa nasi yang dibuat bulat seperti bola pingpong (rice ball selanjutnya simbul badan halus (suksmasarira) tersebut dibakar dan dihanyut ke laut atau sungai yang mengalir kelaut.

3. Atmapratistha, Devapitrapratista atau Ngalinggihang Dewahyang. Di India upacara ini di sebut dengan upacara Sraddha. Upacara ini merupakan upacara tahap terakhir dalam artian apabila upacara telah dilaksanakan maka roh orang yang telah meninggal dunia sudah dipandang suci, dan dapat berstana di tempat suci untuk dipuja oleh anak cucu keturunannya.

Dalam kitab Nagarakrtagama dijumpai bahwa upacara sraddha ini dilakukan oleh raja Majapahit Hayam Wuruk pada jama kejayaan beliau. Roh leluhur beliau yang telah disucikan distanakan di Palah yang kini benama candi penataran di dekat kota Blitar, Jawa Timur.

Demikian upacara penyucian roh orang yang meninggal untuk mencapai kesucian.

Tahun Baru Caka

Om Swatyastu,

Tahun  Caka adalah perhitungan tahun yang digunakan oleh umat Hindu dalam menentukan perputaran waktu dalam siklus satu tahun. Ada banyak perhitungan siklus waktu dalam setahun yang digunakan oleh pemeluk agama yang ada, sesuai dengan keyakinan tentang kebenaran perhitungan tahun tersebut, dan nilai sejarah yang dimiliki oleh tahun tersebut.

Bagi umat muslim lebih cendrung menggunakan perhitungan waktu dalam setahun itu dengan tahun Hijriah, karena diyakini perhitungan itu memiliki ketepatan yang baik atau memiliki nilai sejarah yang lebih memberi makna bagi umatnya.

Bagi umat Nasrani tahun Masehi lebih tepat baginya, mungkin karena memiliki ketepatan dan nilai sejarah yang tinggi dalam mengingatkan umatnya untuk berbakti kepadanya.

Umat Kong Hu Chu, tahun Imlek digunakan sebagai perhitungan waktu dalam setahun. Karena tahun ini mempunyai nilai historis dan dipandang tepat . Bangsa dan Negara juga mempunyai perhitungan tahun. Sebagian besar Bangsa-bangsa di dunia ini menggunakan perhitungan tahunnya dengan menggunakan perhitungan tahun Masehi.

Dengan menggunakan perhitungan tahun sebagaimana tersebut diatas, maka setiap penganut agama atau Warga Negara pada awal perhitungan tahunnya dirayakan sebagai Tahun Baru.

Tahun Baru bagi umat Hindu yang menggunakan dasar perhitungan tahunnya tahun Caka, disebut dengan Tahun Baru Caka, yang jatuhnya pada tanggal 1 sasih kedasa, sedangkan akhir tahunnya jatuh pada tilem kesanga.

Biasanya umat Hindu menyambut tahun barunya dengan penuh aura kerohanian, dimana selang beberapa hari menjelang akhir tahun melakukan pakiisan – untuk menyucikan alam semesta ini, pada hari tilem kesangenya dilakukan pecaruan (tawur kesange) untuk menetrallisir pengaruh-pengaruh buruk dari Bhuta-kala, agar pada tahun mendatang alam ini suci, tidak mendapat gangguan dari unsur-unsur negatif.

Pada tanggal 1 (tahun baru) umat hindu beramai-ramai secara rohani menghubungkan diri menghadap Hyang Widhi untuk memujaNYA dan bermohon kepadaNYA. Pada hari ini dilakukan penyepian sehingga hari ini disebut dengan Hari Raya Nyepi. Umat Hindu melakukan Catur Brata penyepian selama 24 jam dan mona brata serta upawasa. Catur Brata penyepian yang dilaksanakan adalah : Amati Gni, Amati kekaryan, amati lelungan dan amati lelanguan. Disini umat Hindu benar-benar melakukan instrospeksi diri, menilik apa yang dilakukan pada tahun terdahulu dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang. Perbuatan benar akan dipertahankan dan ditingkatkan sedangkan yang salah akan ditinggal atau diperbaiki.

Pada tanggal 2 umat melakukan hubungan sosial dengan sesama manusia yaitu dengan melakukan simakrama (saling memaafkan) baik itu dengan keluarga, saudara, teman, kerabat, sahabat, handai tolan dan bahkan terhadap semua makhluk ciptaan Hyang Widhi ini. Jelas umat Hindu pada Hari Raya Nyepi (Tahun Baru) itu mengutamakan perayaanya bersifat spiritual terlebih dahulu, kemudian barulah yang bersifat manusiawinya.

Simakrama yang sifatnya perorangan atau kekeluargaan sering dilaksanakan pada hari kedua tahun baru, sedangkan simakrama yang bersifat kelompok atau massa yang dikenal dengan istilah Dharma Santy dapat dilakukan setelah hari/tanggal 2 tahun baru Caka tersebut, namun usahakan jangan terlalu lama dengan Hari Raya Nyepi-nya.

Dengan demikian jelas tahun Baru bagi Agama Hindu adalah tahun Baru Caka (Nyepi), yang jatuh sebagaimana tersebut, dan Tahun Baru bagi agama lain, bangsa/negara adalah tahun-tahun yang dijadikan perhitungan siklus peredaran planet bumi ini.

Om Santy 3 X.

Sembahyamg di Pura Agung Mantaren

Image

Sembahyamg di Pura Agung Mantaren

Ini merupakan persembahyangan umat Hindu pada saat Hari Raya Galungqn di Pura agung mantaren Kabupaten Pulang Pisau.
Umat Hindu pada hari itu sangat penuh antosias untuk mengikuti acara persembahyangan dan seluruh acara ritual di pura itu.
Diharapkan pada hari-hari suci seluruh umat selalu mengikuti persembahyangan dan melaksanakan Yadnya dengan didasari hati yang tulus iklas.